Pontianak Bersahabat: Harmoni Sejarah, Budaya dan Peradaban Modern di Usia 254 Tahun
Pontianak Bersahabat: Harmoni Sejarah, Budaya dan Peradaban Modern di Usia 254 Tahun
Disusun Oleh:
Syarif Nasarudin Aulia Zulfi, S.Pd.,Gr.
Guru Ekonomi SMA Negeri 2 Pontianak
254 tahun bukan hanya sekadar angka bagi Kota Pontianak, angka ini menjadi simbol perjalanan panjang yang menjadi makna historis, filosofis dan sosial kultural. Lebih dari dua setengah abad telah dilalui kota yang berdiri di garis khatulistiwa ini, sebuah perjalanan yang merekam dinamika kehidupan, perkembangan peradaban dan semangat masyarakat yang terus bertransformasi seiring perubahan zaman. Mulai dari masa kejayaan perdagangan sungai hingga era digital yang serba cepat, Kota Pontianak telah membuktikan dirinya sebagai kota yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Modernisasi yang hadir dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari tata kota, ekonomi kreatif hingga teknologi informasi, menjadi cerminan bagaimana Kota Pontianak bergerak maju di tengah arus globalisasi. Namun, di balik kemajuan itu, nilai-nilai kearifan lokal tetap dijaga sebagai fondasi moral dan budaya yang menuntun arah pembangunan.
Transformasi ini bukan sekadar perubahan fisik, melainkan juga perubahan cara berpikir dan bertindak. Masyarakat Kota Pontianak kini menatap masa depan dengan semangat inovatif, namun tetap berpijak pada akar tradisi yang kuat. Di sinilah keindahan Kota Pontianak sesungguhnya, kota yang tumbuh dalam keseimbangan antara masa lalu yang bermakna, masa kini yang dinamis, dan masa depan yang penuh kejayaan. Perubahan yang terjadi bukan hanya terlihat pada wajah kota yang semakin modern, tetapi juga pada cara masyarakatnya memaknai kemajuan. Nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan leluhur kini bertransformasi menjadi sumber inspirasi dalam membangun peradaban baru, sebuah peradaban yang menjunjung inklusivitas, keberlanjutan dan kemanusiaan. Identitas Kota Pontianak sebagai “Green City” dan “Smart City” tidak hanya menjadi sekadar julukan, tetapi wujud nyata dari komitmen kolektif untuk menciptakan ruang hidup yang ramah lingkungan, efisien dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Sebagai Green City, Kota Pontianak berupaya menjaga keseimbangan ekologis melalui pengelolaan ruang terbuka hijau, penataan lingkungan yang berkelanjutan, serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kelestarian alam di tengah kehidupan urban. Sementara sebagai Smart City, Kota Pontianak menunjukkan kematangannya dalam memanfaatkan teknologi dan inovasi digital untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat partisipasi warga, dan mempercepat proses pembangunan yang adaptif terhadap tantangan zaman. Dinamika arus globalisasi yang kian deras, Kota Pontianak tampil sebagai kota yang mampu menegosiasikan identitasnya yang tidak terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi juga tidak kehilangan arah di tengah modernitas. Ia tumbuh menjadi kota yang cerdas, berbudaya dan berwawasan lingkungan, sebuah kota yang tidak hanya bergerak menuju kemajuan, tetapi integrase antara manusia, teknologi dan alam sebagai satu kesatuan yang harmonis.
Usia 254 tahun menegaskan bahwa Kota Pontianak bukan sekadar saksi sejarah, tetapi juga pelaku aktif dalam proses pembentukan identitas daerah yang unik dan berkarakter. Nilai historis kota ini tercermin dari jejak masa lalu yang masih hidup dan berdenyut dalam budaya, tradisi, serta cara hidup masyarakatnya hingga kini. Sejarah berdirinya Kota Pontianak berawal pada 23 Oktober 1771, ketika Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie bersama rombongan menetap di pertemuan tiga aliran sungai besar yakni Sungai Kapuas Besar, Kapuas Kecil, dan Sungai Landak. Titik geografis yang strategis ini dipilih bukan tanpa alasan. Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai jalur perdagangan dan pelayaran, wilayah tersebut juga memiliki makna simbolik sebagai ruang pertemuan kehidupan antara darat dan air, antara budaya lokal dan pengaruh luar, antara masa lalu dan masa depan.
Dari kawasan itulah, Kota Pontianak berkembang menjadi pusat peradaban baru di wilayah Kalimantan Barat, yang memadukan nilai-nilai Islam dengan tradisi Melayu dan kearifan lokal masyarakat sekitarnya. Keberadaan Keraton Kadriyah dan Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman menjadi bukti otentik bagaimana pembangunan kota ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual dan kultural. Di bawah kepemimpinan Sultan Syarif Abdurrahman, Kota Pontianak tumbuh sebagai kota yang damai, terbuka terhadap berbagai etnis dan budaya, serta menjadi poros penting dalam jaringan perdagangan antarwilayah di Nusantara.
Nilai historis inilah yang kemudian membentuk karakter masyarakat Kota Pontianak yang terbuka, adaptif, dan menjunjung tinggi toleransi. Warisan sejarah tersebut tidak berhenti sebagai catatan masa lampau, melainkan terus menjadi sumber inspirasi dan identitas kolektif dalam menghadapi tantangan zaman. Kota Pontianak adalah bukti nyata bahwa kemajuan dapat dibangun di atas fondasi sejarah yang kuat, di mana masa lalu bukan beban, tetapi kekuatan yang menuntun langkah menuju masa depan.
Makna filosofis Kota Pontianak tercermin dalam semboyan khasnya, “Awak Datang, Kamek Sambot,” yang secara harfiah berarti “Kamu datang, kami sambut.” Ungkapan sederhana ini bukan sekadar sapaan ramah tamah, tetapi mengandung nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Kota Pontianak yang memuat nilai keterbukaan, keramahan dan penghormatan terhadap sesama. Dalam konteks yang lebih dalam, semboyan ini menggambarkan filosofi hidup masyarakat Kota Pontianak yang menjadikan persaudaraan dan penerimaan terhadap perbedaan sebagai kekuatan sosial dan kultural.
Filosofi ini sejalan dengan tema peringatan Hari Ulang Tahun ke-254 Kota Pontianak, yaitu “Pontianak Bersahabat.” Tema ini menegaskan semangat kolektif warga kota untuk terus menumbuhkan suasana kehidupan yang harmonis inklusif, dan saling menghargai. “Bersahabat” bagi Kota Pontianak bukan hanya sikap sosial, tetapi juga cara pandang terhadap kehidupan, bagaimana manusia, alam dan kemajuan dapat berjalan beriringan dalam keseimbangan yang selaras. Kota ini menanamkan makna “bersahabat” dalam berbagai aspek pembangunan yaitu bersahabat dengan alam, bersahabat dengan peningkatan sumber daya manusia, bersahabat dengan kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi kreatif serta bersahabat dengan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.
Sebagai kota yang dikenal dengan identitasnya sebagai Green City dan Smart City, Pontianak berupaya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian. Upaya menjaga kualitas lingkungan dilakukan melalui peningkatan ruang terbuka hijau, pengelolaan sungai yang lebih berkelanjutan dan pengendalian polusi (sampah) berbasis partisipasi masyarakat. Dalam bidang sumber daya manusia dan kesehatan, pemerintah terus mendorong peningkatan mutu pendidikan, pelayanan kesehatan yang merata dan literasi digital yang mendukung terwujudnya masyarakat cerdas dan tangguh. Pembangunan infrastruktur dilakukan tidak hanya untuk memperindah kota, tetapi juga untuk memperkuat konektivitas dan aksesibilitas antarwilayah, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.
Di sisi lain, sektor ekonomi kreatif (ekraf) menjadi ruang bagi generasi muda Kota Pontianak untuk berinovasi dan berkontribusi terhadap perekonomian lokal. Melalui penguatan potensi kuliner, seni, desain dan produk berbasis budaya, Kota Pontianak menunjukkan bahwa kemajuan dapat tumbuh dari kreativitas dan identitas daerah sendiri. Seluruh upaya tersebut berpadu dalam visi besar “Pontianak Bersahabat” , kota yang tumbuh bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial dan spiritual. Kota yang cerdas secara teknologi, hijau secara lingkungan, dan hangat secara kemanusiaan.
Pontianak Bersahabat akan benar-benar terwujud apabila peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dilakukan secara unggul, terpadu, dan berkelanjutan. SDM yang berkualitas merupakan fondasi utama dalam mewujudkan kota yang maju, inklusif, dan berdaya saing. Pembangunan infrastruktur, teknologi dan ekonomi tidak akan bermakna tanpa diiringi dengan peningkatan kapasitas manusia sebagai penggerak utamanya. Karena itu, Kota Pontianak menempatkan pengembangan SDM sebagai prioritas strategis, melalui peningkatan mutu pendidikan, pelatihan keterampilan dan penguatan literasi digital serta karakter kebangsaan.
Masyarakat Kota Pontianak diharapkan menyeimbangkan kecerdasan secara intelektual dan tangguh secara moral serta sosial. SDM unggul bukan sekadar individu berpengetahuan tinggi, melainkan juga pribadi yang memiliki empati, integritas dan semangat kolaborasi. Melalui upaya konstruktif tersebut, Kota Pontianak dapat mencapai ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal, masyarakat yang akan saling menghormati, peduli terhadap lingkungan, inovatif dalam berkarya dan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri lokal. Pada akhirnya, kota yang bersahabat bukan hanya dibangun oleh kebijakan, akan tetapi harus sejalan dengan insan yang berkarakter, berpengetahuan dan berjiwa kemanusiaan.
Perjalanan 254 tahun bukanlah waktu yang singkat, ia adalah rentang sejarah panjang yang menuturkan kisah tentang keteguhan, adaptasi dan semangat kebersamaan yang tak pernah padam. Dari tepian Sungai Kapuas hingga denyut kehidupan kota modern hari ini, Kota Pontianak telah membuktikan dirinya sebagai kota yang mampu tumbuh dalam harmoni antara tradisi dan kemajuan. Setiap jengkal tanahnya, setiap aliran sungainya, dan setiap senyum warganya menyimpan cerita tentang perjuangan, kebanggaan, dan cinta terhadap tanah kelahiran.
Selamat HUT Kota Pontianak ke 254 Tahun. Semoga Kota Pontianak senantiasa menjadi kota yang ramah, maju, berbudaya, dan bersahabat bagi semua. Kota di garis khatulistiwa yang tak hanya menyinari bumi, tetapi juga menerangi hati setiap insan yang datang dan tumbuh di dalamnya.
0 Komentar
Tambahkan Komentar